Teknologi Indonesia
Senin, 20 Januari 2014
Minggu, 19 Januari 2014
5 TEKNOLOGI INDONESIA, MADE INDONESIA
1. PC TABLET WAKAMINI
Pindad telah memproduksi senapan serbu SS2 sejak 2006. Kesatuan yang
pertama kali menggunakan senjata hasil pengembangan SS1 ini adalah
Kopassus TNI AD.
Senapan ini, dirancang dengan tingkat kehandalan dan keakuratan tinggi. Bahkan mampu bersaing dengan senapan serbu tipe M16 buatan Amerika Serikat atau AK47 buatan Rusia. Dijual mulai harga Rp 8 juta per unit, SS2 dirancang dalam 4 varian, yakni: SS2-V1, SS2-V2, SS2-V4, SS2-V5.
Wakamini adalah komputer tablet seratus persen buatan Indonesia dengan harga yang bisa dijangkau siapapun, Rp3.599.000. Dari sisi layarnya, desain komputer tablet lokal ini tergolong unik yang dapat diputar 180 derajat, berukuran 10 inchi dan memiliki empat varian warna; coklat, merah, hitam dan biru. Sistem operasinya menggunakkan Windows 7 Home Premium dan Ultimate, dengan layar sentuh. Wakamini dibekali dengan prosesesor Intel Atom N450 berkecepatan 1,66 Ghz,RAM (Random Access Memory) sebesar 1 GB DDR2, Ruang penyimpanan 250 GB, sedangkan bobotnya 1,35 KG dengan Wifi “4 in 1″ card reader dan 1,3 MP Webcam dengan batrai berdaya tahan tiga jam.Sementara Wakatobi berukuran lebih mungil dan didesain untuk anak-anak, hanya 8,9 inchi. Desain layarnya juga unik, demikian pula harganya yang cukup menarik Rp2,999.000 per unit atau termurah di kelasnya. Tapi berbeda dari saudaranya, Wakatobi tidak mendukung fitur multi touch. Prosesor Wakatobi adalah Intel Atom N270 berkecepatan 1,6 Ghz, dengan RAM 1 GB DDR2. Bobotnya hanbya 1,25 kg
2. ROBOT TEMPUR
Lembaga Pengkajian Teknologi (Lemjitek) TNI AD, Karangploso, Kabupaten Malang, mampu menciptakan robot tempur.
”Ukurannya 1,5 m kali 0,5 m dengan berat sekitar 100 kg. Robot ini
memiliki mesin penggerak dua roda,dan mampu mengangkut beban hingga
sekitar 150 kg, kecepatan maksimalnya bisa mencapai 60 km/jam,”
terangnya.
Meski dinyatakan belum sepenuhnya sempurna, namun robot tempur ini memiliki kemampuan yang setara dengan robot tempur impor. Selain dapat dikendalikan secara jarak jauh, robot ini dilengkapi dengan kamera pengintai sebanyak enam unit, dan sensor ultrasonic untuk mengenali setiap hambatan yang dihadapi.
”Kami juga memasang dua senjata perusak pada robot ini, yakni senapan mesin ringan (SMR) jenis Minimi kaliber 5,56 mm, dan roket anti tank Estalansa caliber 90 mm yang bisa dioperasionalkan dari jarak jauh,”
3. BODI HELIKOPTER COUGAR ASLI BUATAN INDONESIA
BANDUNG — Industri pesawat terbang Indonesia terus berkembang. PT
Dirgantara Indonesia, badan usaha milik negara (BUMN) strategis, bekerja
sama dengan Eurocopter dalam mengembangkan helikopter EC 725 Cougar.
Setelah tiga tahun pengembangan, fuselage (badan helikopter) Cougar akhirnya rampung. Helikopter tersebut didesain oleh Eurocopter, industri helikopter yang bermarkas di Perancis dan merupakan pemegang hak cipta dari helikopter Cougar.
Awalnya PT Dirgantara Indonesia (PT DI) merakit helikopter ini atas pemesanan dari TNI Angkatan Udara sebanyak empat unit. Eurocopter kemudian mengirim desain Cougar. Namun, desain yang dikirimkan ternyata belum sempurna.
"Mulanya kami seperti subkontrak, mereka memberikan desain, kami yang mengerjakan. Tapi ini berbeda. Gambar-gambar yang diberikan kepada kami itu belum matang. Belum bisa menjadi komponen dan masih banyak kesalahan. Kami membantu desain tersebut menjadi desain utuh," ujar Sonny Saleh Ibrahim, Kepala Komunikasi PT DI, Rabu (23/10/2013).
Pembuatan helikopter di PT DI dimulai dengan jenis NBO 105 pada 1976, dilanjutkan dengan Puma NSA 330 dan Super Puma NAS 332 di tahun 1982. Dua tahun kemudian, pada 1984, PT DI memproduksi lagi Nbell 412.
EC 725 Cougar sendiri dikerjakan sejak 2010, diikuti pengerjaan Bell 412-EP pada 2011. Helikopter Cougar sendiri merupakan evolusi dari Super Puma NAS 332. Hingga saat ini, Super Puma NAS 332 sudah diproduksi sebanyak 20 unit. Sebagian besar produksi digunakan oleh TNI AU. (Rhea Febriani Tritami)
(Kompas)
Surabaya- Teknologi
siluman, yang memungkinkan kapal perang tak terdeteksi radar musuh,
menjadi salah satu keunggulan penting bagi sistem pertahanan di negara
maju. Hanya saja, untuk menciptakan teknologi canggih seperti ini
membutuhkan anggaran besar. Tak mengherankan jika teknologi semacam ini
seperti menjadi monopoli negara maju. Benarkah teknologi seperti itu tak bisa dimiliki oleh Indonesia? Jawaban
atas pertanyaan inilah yang ingin dipecahkan oleh Mochammad Zainuri,
dosen Fisika Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Institut
Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, melalui risetnya sejak 2009
lalu.
Meski dinyatakan belum sepenuhnya sempurna, namun robot tempur ini memiliki kemampuan yang setara dengan robot tempur impor. Selain dapat dikendalikan secara jarak jauh, robot ini dilengkapi dengan kamera pengintai sebanyak enam unit, dan sensor ultrasonic untuk mengenali setiap hambatan yang dihadapi.
”Kami juga memasang dua senjata perusak pada robot ini, yakni senapan mesin ringan (SMR) jenis Minimi kaliber 5,56 mm, dan roket anti tank Estalansa caliber 90 mm yang bisa dioperasionalkan dari jarak jauh,”
3. BODI HELIKOPTER COUGAR ASLI BUATAN INDONESIA
BANDUNG — Industri pesawat terbang Indonesia terus berkembang. PT
Dirgantara Indonesia, badan usaha milik negara (BUMN) strategis, bekerja
sama dengan Eurocopter dalam mengembangkan helikopter EC 725 Cougar.Setelah tiga tahun pengembangan, fuselage (badan helikopter) Cougar akhirnya rampung. Helikopter tersebut didesain oleh Eurocopter, industri helikopter yang bermarkas di Perancis dan merupakan pemegang hak cipta dari helikopter Cougar.
Awalnya PT Dirgantara Indonesia (PT DI) merakit helikopter ini atas pemesanan dari TNI Angkatan Udara sebanyak empat unit. Eurocopter kemudian mengirim desain Cougar. Namun, desain yang dikirimkan ternyata belum sempurna.
"Mulanya kami seperti subkontrak, mereka memberikan desain, kami yang mengerjakan. Tapi ini berbeda. Gambar-gambar yang diberikan kepada kami itu belum matang. Belum bisa menjadi komponen dan masih banyak kesalahan. Kami membantu desain tersebut menjadi desain utuh," ujar Sonny Saleh Ibrahim, Kepala Komunikasi PT DI, Rabu (23/10/2013).
Pembuatan helikopter di PT DI dimulai dengan jenis NBO 105 pada 1976, dilanjutkan dengan Puma NSA 330 dan Super Puma NAS 332 di tahun 1982. Dua tahun kemudian, pada 1984, PT DI memproduksi lagi Nbell 412.
EC 725 Cougar sendiri dikerjakan sejak 2010, diikuti pengerjaan Bell 412-EP pada 2011. Helikopter Cougar sendiri merupakan evolusi dari Super Puma NAS 332. Hingga saat ini, Super Puma NAS 332 sudah diproduksi sebanyak 20 unit. Sebagian besar produksi digunakan oleh TNI AU. (Rhea Febriani Tritami)
(Kompas)
4. TEKNOLOGI
'KAPAL PERANG SILUMAN' DARI SURABAYA
Surabaya- Teknologi
siluman, yang memungkinkan kapal perang tak terdeteksi radar musuh,
menjadi salah satu keunggulan penting bagi sistem pertahanan di negara
maju. Hanya saja, untuk menciptakan teknologi canggih seperti ini
membutuhkan anggaran besar. Tak mengherankan jika teknologi semacam ini
seperti menjadi monopoli negara maju. Benarkah teknologi seperti itu tak bisa dimiliki oleh Indonesia? Jawaban
atas pertanyaan inilah yang ingin dipecahkan oleh Mochammad Zainuri,
dosen Fisika Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Institut
Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, melalui risetnya sejak 2009
lalu.
Menurut dia, teknologi siluman sebenarnya bisa dikembangkan dengan dua
cara. Pertama, membuat kapal dengan struktur dan desain yang tidak bisa
dilacak dengan radar. Artinya, saat terkena radar, bagian dari kapal
tersebut akan memantulkannya ke arah lain sehingga membuatnya tak
terdeteksi. "Untuk membuat kapal sendiri dengan desain dan struktur
canggih, butuh biaya sangat besar. Ini tidak mungkin saya lakukan," kata
dia saat ditemui Tempo di rumahnya di Waru, Sidoarjo, Jawa Timur,
Minggu 29 Juli 2012. Ia menyadari anggaran untuk alat utama sistem
persenjataan Indonesia sangat terbatas.
Kedua, mengembangkan teknologi "kapal siluman" dengan menyulap
kapal-kapal bekas yang dilapisi material nano komposit sehingga bisa
menyerap gelombang radar. Konsep inilah yang sedang ditelitinya sejak
tiga tahun lalu hingga kini. Pria 48 tahun ini terus mengembangkan
teknologi siluman dengan mengembangkan material nano komposit, pelapis
yang mampu menyerap gelombang radar.
Material untuk nano komposit itu diambil dari bahan-bahan alam pasir
besi di Pantai Bambang Lumajang, Jawa Timur. Pertimbangannya, pasir di
wilayah ternyata mempunyai sifat veromagnetik (pasir besi). Untuk bisa
menjadi bahan nano komposit, pasir besi ini terlebih dahulu dipisahkan,
diekstraksi, dan direkayasa. Hasilnya lantas digabung dengan partikel
listrik yang berbahan dasar PANi (ponianeline) dalam orde nano dan
diikat sehingga bisa dilapiskan dalam bahan logam.
5. SENAPAN SERBU SS2
Pindad telah memproduksi senapan serbu SS2 sejak 2006. Kesatuan yang
pertama kali menggunakan senjata hasil pengembangan SS1 ini adalah
Kopassus TNI AD.Senapan ini, dirancang dengan tingkat kehandalan dan keakuratan tinggi. Bahkan mampu bersaing dengan senapan serbu tipe M16 buatan Amerika Serikat atau AK47 buatan Rusia. Dijual mulai harga Rp 8 juta per unit, SS2 dirancang dalam 4 varian, yakni: SS2-V1, SS2-V2, SS2-V4, SS2-V5.
Langganan:
Komentar (Atom)


